Tuesday, 27 March 2018

Toko Merah , Sejarah Panjang Hingga Menjadi Salah Satu Bangunan Tertua di Jakarta



Di tengah ramainya gedung-gedung pencakar langit yang terus dibangun tiap tahunnya di Jakarta, ada salah satu bangunan tua yang sangat instagramble dan mencuri perhatian karena desain bangunan yang berbeda dengan beberapa bangunan lainnya. Hingga kini bangunan ini terus dirawat oleh Pemerintah Kota Jakarta hingga menjadikan bangunan ini terlihat indah dipandang oleh mata. Bangunan tersebut adalah Toko Merah yang terletak di kawasaan Jakarta Barat dan tidak jauh dengan Museum Fatahillah. Bangunan Belanda ini memiliki kesan sentuhan arsitektur China terlihat dari beberapa sudut bangunannya seperti pada bagian pintu, jendela, dan lain sebagainya.
photo by trisoenoe.com
Toko Merah Dulu
Toko Merah adalah satu dari sekian banyak bangunan tertua yang ada di Jakarta dan satu dari sekian banyak bangunan tua yang berjejer di tepi Kali Besar Jakarta. Dibangun pada 1730 dan awalnya merupakan kediaman dari Gubernur Jendral Gustaaf Willem Barron Van Imhoff.  Selain van Imhoff beberapa Gubernur Jendral lain juga pernah mendiami Toko Merah ini seperti Jacob Mossel (1750 - 1761), Petrus Albertus van der Parra (1761 - 1775), Reinier de Klerk (1777 - 1780), Nicolas Hartingh , dan baron von Hohendorff. (source: wikipedia)


Pernah beberapa kali berubar-ubah fungsi yang awalanya kediaman dari beberapa Gubernur Jendral yang kemudian menjadi Kampus dan Asrama Akademi Angkatan Laut, hotel para pejabat, rumah tinggal Anthony Nacare hingga beberapa kali berganti yang kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai "taka" yang kemudian populer dengan sebutan "Taka Merah". Pada beberapa tahun kemudian dibeli lagi oleh beberapa orang lainnya hingga berubah menjadi kantor dalam beberapa kalisalah satunya adalah PT. Satya Niaga dan PT. Dharma Niaga berselang beberapa tahun kemudian. Hingga pada 2012 setelah melewati beberapa kali renovasi bangunan ini menjelma menjadi function hall yang dijadikan sebagai tempat konferensi dan pameran.

Kini bangunan ini telah menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Jakarta, dilindungi berdasarkan Undang-undangan R.I. Nomor 5, Tahun 1992 dan Surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 475, Tanggal 29 Maret 1993.


Selain sebagai ruang konferensi, tempat ini juga menjadi satu dari sekian banyak spot foto favorit kalangan muda untuk membuat warna-warni Instagram mereka tetapi juga menjadi tempat yang sangat favorit untuk foto pre wedding bagi mereka yang akan segera menikah dengan latar belakang bata-bata merah bersusun rapi. Ketika terakhir gw mengunjungi bangunan ini pada awal 2018 gw tidak banyak dapat mengambil foto-foto pada bangunan ini karena banyaknya mobil parkir disekitar lokasi karena ada acara dan gw juga tidak bisa mengambil foto dari seberang karena sedang ada proyek pembangunan taman baru yang ditutup dengan pembatas hingga sampai berbatasan dengan badan jalan sehingga sulit untuk mengambil foto bangunan ini secara keseluruhan.
Share:

0 komentar:

Post a Comment