Monday, 12 March 2018

Jakarta Heritage Walk , Berdiri Di Antara Eksistensi Bangunan Tua Jakarta


Jakarta, kota dengan keunikan tersendiri yang memiliki keindahan malam tiada duanya di Indonesia, namun juga dikenal dengan kota terpadat dan traffic paling keras di Indonesia. Itulah Jakarta, kota yang pada pagi hingga sore penduduknya bisa meledak dengan banyaknya warga Bekasi, Bogor, Depok dan sekitarnya yang mengais rezeki di Jakarta. Itulah Jakarta, Ibu kota dari Indonesia.


Kota yang hingga kini tidak pernah berhenti membangun gedung-gedung pencakar langit, menjadikan Jakarta masuk dalam kota yang memiliki pepohonan semen terbanyak di Indonesia dan bahkan masuk kedalam daftar kota di dunia dengan gedung-gedung pencakar langit terbanyak, meski kebanyakan gedung masih kalah tinggi tingkat ketinggiannya dari gedung-gedung yang ada di kota di dunia lainnya. Namun dalam beberapa tahun kemudian bukan tidak mungkin Jakarta akan mengalahkan San Francisco, New York, Tokyo, Beijing, Hong Kong, dan lain sebagainya.


Jika kamu melihat Jakarta dari another scenery, Jakarta memiliki keunikan tersendiri pada sudut lain kotanya, karena Jakarta memiliki Old city yang mungkin tidak dimiliki oleh semua kota-kota besar lainnya di dunia. Kota Tua Jakarta yang pernah menjadi kawasan pusat Jakarta di masa dahulu mendapatkan julukan sebagai "Permata Asia" atau "Ratu Asia dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar-pelayar asing, karena posisi Jakarta yang sangat strategis hingga menjadikannya sebagai pusat perdaganagan di Asia pada zaman dahulu. Dalam penelusuran Kota Tua Jakarta sangatlah menarik, namun bagi kebanyakan orang image Kota Tua hanyalah kawasan taman Fatahillah, namun sebenarnya Old City Jakarta sangatlah luas.

Hingga kini , dengan banyaknya bangunan-bangunan sisa peninggalan zaman kolonialisme menjadikan kawasan ini masuk dalam nominasi World Heritage Site oleh UNESCO, bangunan-bangunan tua di Jakarta menjadikannya magnet tersendiri sebagai destinasi wisatawan, mulai dari yang dijadikan sebagai cafe, museum,  kantor, ataupun bangunan kosong-kosong lainnya.

Disamping itu, ada beberapa bangunan yang telah kosong atau tidak berpenghuni yang menjadikan bangunan tersebut menjadi terlantar, dengan cat lusuh dan struktur semen yang rapuh menjadikan bangunannya sangat memprihatinkan, entah itu disengaja agar menambah nuansa kunonya tetapi bangunannya sangat mengkhawatirkan jika terjadi sebuah gempa besar yang dapat menghancurkan bangunan dengan sekejap saja.



Namun sekarang, pemerintah kota Jakarta terus melakukan revitalisasi terhadap bangunan tua Jakarta untuk menjadikan kawasan ini menjadi tempat wisata edukasi maupun wisata bersantai bagi keluarga. Hingga kunjungan saya yang ketiga ke Old City of  Jakarta ini pada 2018, sudah banyak bangunan yang telah diperbaiki dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Seperti halnya gedung Dassad Musin Concern yang telah direnovasi dan juga Gedoeng Jasindo dan masih banyak lagi.


Bahkan pemerintah Jakarta kini akan membuat sebuah taman baru yang nantinya akan sangat menunjang kawasan Kota Tua Jakarta agar image disebagian mata pendatang atau wisatawan di Kota Tua bukan cuma mengenal kawasan Taman Fatahillah saja, padahal Kota Tua Jakarta itu sangat luas dan menarik di jelajahi. Revitalisasi maupun pembuatan taman terletak di sekitar Kali besar dengan menjadikannya Jakarta akan memiliki Taman apung disekitar Kali besar ini. Menarik ditunggu kehadiran kawasan wisata baru ini disekitar Kota Tua.

Share:

0 komentar:

Post a Comment