Thursday, 1 February 2018

Naik Becak dan Heritage Walk Seru di Jembatan Merah Surabaya


Pagi menjelang siang di Kota Surabaya, dengan arus lalu lintas yang tidak terlalu ramai telah membawa saya untuk mengunjungi kawasan Jembatan Merah yang telah lama menjadi target destinasi saya. Kenapa ? karena tempat ini terkesan sangat vintage dan dipenuhi gedung-gedung tua yang kini telah menjadi bangunan Cagar Budaya di Kota Surabaya sehingga memberikan kesan tersendiri bagi orang-orang yang mengunjunginya.


Kawasan jembatan merah dulunya merupakan kawasan perniagaan dan perkantoran yang cukup ramai di masa penjajahan dengan jembatan merah atau dalam bahasa Belanda Roode Brug sebagai jembatan penghubung antara Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun yang menjadikan jembatan ini sangat vital dalam transportasi zaman dahulu. Jembatan ini dulunya terbuat dari kayu-kayu kini telah disulap menjadi sebuah jembatan yang sangat kokoh dengan pembatas besi yang dicat warna merah.

Pada bagian barat pada jembatan adalah kawasan yang dipenuhi bangunan dengan arsitektur Belanda dan pada bagian timur adalah kawasan pecinaan Surabaya yaitu Kya-Kya, kawasan Kya-Kya tergolong lebih padat penduduk dan terdapat banyak toko-toko.



Di daerah Jembatan Merah banyak bangunan yang sudah kosong dan tidak terawat seperti Gedung Singa atau Gedung Aperdi atau Gedung Algameene dengan tampilan gedung yang sedikit menyeramkan namun menarik untuk ditelisik, Gedung ini terkesan mistis dengan dua patung singa bersayap didepannya dan lukisan keramik didepannya  yang menggambarkan seorang wanita duduk ditengahnya dengan membentangkan sayap dan terdapat inisial A pada bagian dada yang kemungkinan itu inisial dari nama asli gedung ini yaitu Algameene dan diapit oleh dua orang wanita sambil menggendong bayi, arsitek dari gedung ini adalah seorang arsitek terkenal dari Belanda yaitu Hendrik Petrus Berlage (1856-1934). 


Selain itu beberapa bangunan ada juga yang sangat terawat dengan baik dan masih pada jalan yang sama dengan Gedung Algameene yaitu terdapat gedung dengan menara jam yang sangat retro, yaitu gedung Bank Internasional Indonesia, awalnya nama gedung ini adalah Nederlands Spaarbank. Gedung ini memiliki ciri khas bangunan pojok ala Belanda dengan menara jamnya. Dengan arsitektur kunonya bangunan ini selalu memiliki kesan tersendiri bagi seorang penikmat sejarh dan membuat orang berpikir sejenak memandanginanya. Sekarng gedung ini menjadi penunjang kawasan kota tua Surabaya dan bangunannya kesehariannya masih berfungsi sebagai Bank.

Bangunan yang juga masih sangat terawat dengan baik, salah satunya adalah gedung yang telah menjadi Hotel yaitu Gedung Acordia dan Gedung Internatio, Gedung Internatio atau Internationale Crediten Handelvereeniging memiliki banyak cerita yang pernah terjadi di sekitar gedung ini, salah satunya adalah pertempuran arek-arek Suroboyo melawan tentara penjajah pada peristiwa 30 Oktober 1945 dimana Inggris kehilangan seorang pimpinannya yaitu Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby atau yang dikenal dengan nama Brigjen Mallaby. Berawal dari peristiwa kematian ini maka munculah konflik lain yang lebih dahsyat yaitu pertempuran 10 November 1945 yang pada akhirnya ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Mungkin ditengah mulai menjamurnya gedung-gedung tinggi di kota Surabaya bangunan-bangunan disini akan selalu mempertahankan keasliannya dan menjadikan kawasan ini sangat berbeda dan eksotis untuk dikunjungi wisatawan-wisatawan dan selalu memeberikan kesan tersendiri bagi para pengunjung yang mengunjungi daerah ini, terlebih lagi tempat ini merupakan kawasan terfavorit untuk berburu foto dan tempat membuat video-video dengan latar bangunan-bangunan tua yang ciamik. Semoga bangunan-bangunan disini akan terus terawat dengan baik hingga terus menjadikannya sebagai kawasan bersejarah Surabaya yang patut untuk dikenang.





Share:

0 komentar:

Post a Comment